<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Relawan Pro Jusuf Kalla</title>
	<link>http://jusufkalla.blogsome.com</link>
	<description>Relawan Pro Jusuf Kalla</description>
	<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 03:59:25 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Kita (SBY-JK) Saling Mengisi</title>
		<link>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/kita-sby-jk-saling-mengisi/</link>
		<comments>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/kita-sby-jk-saling-mengisi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 03:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/kita-sby-jk-saling-mengisi/</guid>
		<description><![CDATA[	Kita (SBY-JK) Saling Mengisi 		
 		 		Bertahan Sampai 2009, Selanjutnya Terserah Partai
 		Dalam hal kepemimpinan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil  		Presiden M Jusuf Kalla, kalau dilihat dari luar, bisa digambarkan  		seperti antara sais dan joki. Kepemimpinan Presiden SBY (jenderal yang  		berpikir dan berkultur Jawa) bertindak konsepsional dan hati-hati,  		sehingga dibilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h1>Kita (SBY-JK) Saling Mengisi<br /> 		</h1>
 		<br /> 		<strong>Bertahan Sampai 2009, Selanjutnya Terserah Partai</strong>
<p> 		Dalam hal kepemimpinan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil  		Presiden M Jusuf Kalla, kalau dilihat dari luar, bisa digambarkan  		seperti antara sais dan joki. Kepemimpinan Presiden SBY (jenderal yang  		berpikir dan berkultur Jawa) bertindak konsepsional dan hati-hati,  		sehingga dibilang orang cenderung peragu. Sementara Wapres Jusuf Kalla (saudagar  		berkultur Bugis) lebih bertindak cepat dan pragmatis, sehingga dibilang  		orang melampaui batas kewenangan. Bahkan, ada kesan, duet ini sering  		kali bersaing berebut pengaruh dan kekuasaan.</p>
	<p> 		Bagaimana sesungguhnya pengalaman Wapres Jusuf Kalla dalam bekerjasama  		dengan Presiden SBY. Adakah hambatan akibat &lsquo;keraguan&rsquo; Presiden SBY itu?  		Pernahkah faktor gaya kepemimpinan menjadi penyebab keretakan hubungan  		keduanya? Bisakah dwitunggal ini bertahan sampai 2009?</p>
	<p> 		&ldquo;Bisa, oh pasti, insya Allah bisa jalan. Kita jalan bersama, saling  		mengisi,&rdquo; kata Wapres Jusuf Kalla menjawab pertanyaan terakhir ini dalam  		percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia Ch Robin Simanullang, Samsuri,  		Haposan Tampubolon dan Mangatur L Paniroy di Istana Wapres, Jakarta.</p>
	<p> 		Wapres menerima Wartawan Tokoh Indonesia hampir satu setengah jam di  		tengah kesibukannya selepas mengikuti Sidang Kabinet. Tidak tampak ada  		perobahan sikapnya dari sebelum menjadi Wakil Presiden. Dia bersahaja,  		akrab dan masih kenal. Percakapan mengalir apa adanya. Termasuk  		berbicara hal-hal pribadi. Hanya waktu yang membuat percakapan itu  		terbatas.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Setelah lebih tiga tahun Kabinet Indonesia Bersatu, kita dan  		publik ingin lebih mengetahui dari pemerintah sendiri, apa sih yang  		sudah dilakukan Kabinet Indonesia Bersatu? Barangkali garis besarnya  		saja, hal yang menonjol, sesuai dengan visi dan misi yang diutarakan  		dulu, atau dijanjikan kepada masyarakat menjelang pemilihan presiden.  		Barangkali bisa diuraikan beberapa poin yang sangat strategis untuk  		diketahui oleh publik?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Ya, tentu, kan, itu bisa dilihat dari banyak laporan (nanti  		diberikan). Jadi kalau dulu programnya, pertama menciptakan masyarakat  		yang damai sejahtera. Secara umum, kalau soal damai kan, sebenarnya kita  		itu berada pada situasi yang paling baik dibanding, katakanlah 20-30  		tahun terakhir. Tidak ada konflik-konflik lagi, secara nasional. Kita  		selesaikan Aceh, kita selesaikan Poso.</p>
	<p> 		Kedua, dalam hal ekonomi, sebenarnya pertumbuhan lebih baik sekarang ini,  		kita usahakan naik enam persen lebih. Kemudian, secara umum, kehidupan  		pun naik sebenarnya. Income perkapita kita sudah $1.800 AS hari ini.</p>
	<p> 		Ya, memang masih ada pasti masalah-masalah kemiskinan, pengangguran,  		karena itu tidak bisa sekaligus selesai. Jadi, ya, tentu, mungkin ada  		bukunya nanti untuk lebih lengkap data-datanya.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Flashback dulu ke masalah Aceh, sebagai salah satu poin,  		konflik yang sudah bertahun-tahun tetapi bisa diselesaikan.  		Sepengetahuan kami, secara langsung atau tidak langsung, bahwa Wapres  		sendiri yang sebenarnya sangat berperan dalam proses menciptakan  		perdamaian di Aceh itu?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Ya, ada tim kita bentuk. Saya sendiri juga tentu memimpin  		langsung timnya. Tapi tentu ada arahan Bapak Presiden yang kita jalanin.  		Tapi, lebih daripada itu, seluruh masyaralatlah tentu ingin damai. Ya,  		kita jalankan seperti itu.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Tanpa Wapres barangkali susah juga untuk menjalankan  		keinginan damai itu?<br /> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya biasalah itu, kita semua bisa.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Trik apa kira-kira, yang paling berkesan dalam proses damai  		itu?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Ya memahami persoalan, itu yang pertama. Kedua,  		menganalisa persamaan-persamaan dan kepentingan-kepentingan. Kemudian  		juga, bagaimana mengurangi perbedaan-perbedaan, kemudian mengatur  		kompromi dari perbedaan itu. Jadi persamaannya kita atur, perbedaannya  		kita ketahui kemudian kita kompromikan. Itu kiatnya.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Kelihatannya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) itu sangat percaya  		pada diplomasi Pak Jusuf Kalla?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Oh, ya. Pertama, saya di samping ikhlas, dia tahu saya  		ada kepercayaan. Saya percaya sama dia dan dia percaya sama saya. Di  		mana-mana saya bisa menjamin saling kepercayaan. Waktu saya selesaikan  		Ambon ya begitu. Begitu juga Poso, atur kepercayaan. Dan juga, jangan  		ragu-ragu.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Inisiatif diplomasi damai dari Pak Wapres?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Ya, biasalah begitu. </p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Kemudian, ada arahan dari Bapak Presiden?<br /> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> (Menganguk kepala seraya tersenyum).</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Kemudian ada lagi, yang menurut kami, suatu kebijakan yang  		sangat berani dari Kabinet Indonesia Bersatu, di bawah pimpinan Presiden  		dan Wapres, yakni waktu menaikkan harga minyak (BBM) sedemikian tinggi,  		sehingga mendapat sorotan dari berbagai pihak, terutama mengenai  		berbagai akibat kenaikan itu berikutnya. Tentu ada pertimbangan yang  		sangat strategis sebelum mengambil keputusan yang tidak populer itu?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Ya pertama, kalau kita tidak naikkan harga maka  		subsidinya tinggi sekali, bisa mencapai Rp 250 triliun. Kalau subsidinya  		mencapai Rp 250 triliun maka negeri ini akan kolaps, tidak bisa apa-apa.  		Oleh karena itu harus dinaikkan. Tapi secara bersamaan pada saat yang  		sama kita kasih bantuan tunai langsung kepada masyarakat miskin. Jadi  		aman.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Tidak mempertimbangkan faktor opini publik demi popularitas?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Oh ya, kita pertimbangkan.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Berani mengambil risiko dengan mengorbankan popularitas?</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>WAPRES:</strong> Ya, kita ambil saja risiko itu.</p>
	<p> 		<strong></strong><strong>MTI:</strong> Dan, itu tidak termasuk tebar pesona?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Oh, kita ambil risiko. Jadi pemimpin harus punya risiko, berani  		mengambil risiko.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Inisiatif itu konon dari Pak Wapres juga?<br /> 		<strong>WAPRES:</strong> Ah&#8230;ha&#8230;ha&#8230;ha. Sama-samalah semuanya.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Kemudian, dari pengalaman selama lebih tiga tahun memimpin Kabinet  		Indonesia bersatu bersama Presiden SBY, apa tantangan yang paling berat  		dihadapi pemerintah?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Kalau tantangannya banyak. Tantangan yang paling besar,  		sebenarnya pada perkembangan demokrasi yang sangat terbuka, otonomi yang  		sangat terbuka. Sehingga menyebabkan pengambilan keputusan, untuk  		memutuskan sesuatu, tidak mudah. Karena kecenderunga, apa saja ditolak  		orang, sehingga harus disosialisasikan dulu agar dimengerti orang dengan  		baik.</p>
	<p> 		Hal lain saya kira, yang kedua, juga karena kita alami beban-beban masa  		lalu yang masih tinggi sekali, seperti utang, subsidi dan lain-lain.  		Jadi kita harus melewati itu.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Bisa diberikan contoh yang lain?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya, gimana ya. Seperti contoh begini. Kita ingin mau  		meningkatkan industri, investasi. Tapi kebebasan buruh yang begitu besar,  		sehingga susah sekali bagi kita untuk meyakinkan investor bahwa  		Indonesia tempat yang baik. Karena apa saja terbuka, apa saja orang muat  		di media, apa saja orang di DPR masalah-masalah. Banyak sekali  		masalah-masalah. Berbeda dengan jamannya Pak Harto dulu, semua apa yang  		diperintahkan beliau jalan. Kemudian birokrasi juga sangat takut.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Soal birokrasi, reformasi birokrasi. Kalau pengamatan kita dari  		luar masih begitu lambat, apa kira-kira penyebabnya?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Pertama, birokrasi kita terlalu banyak, besar, aturan banyak,  		jadi dia juga ketakutan untuk ambil risiko. Pemberantasan korupsi itu  		memang sangat penting, tapi juga mempunyai efek yang lain, orang sangat  		hati-hati. Tidak mudah mereka mengambil keputusan.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Kemudian kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG, juga di bidang  		ekonomi yang dimotori Pak Wapres barangkali?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Itulah dalam rangka mengurangi subsidi. Kalau tidak, subsidi  		kita terlalu tinggi. Dan itu menguntungkan semua pihak sebenarnya.  		Menguntungkan masyarakat karena LPG lebih murah dibanding minyak tanah.  		Dan juga, menguntungkan pemerintah, kita bisa menghemat subsidi besar  		sekali. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Ada masalah hambatan dari segi sosialisasi yang begitu lambat soal  		kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya pasti akhirnya orang paham. Tapi sekarang umumnya sudah baik.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Ini masalah politik. Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, tentu,  		sebagai partai terbesar yang memenangkan Pemilu 2004, dan sekarang  		berada di pemerintahan, ada posisi dilematis Partai Golkar dalam  		koalisinya dengan pemerintah, sebenarnya bagaimana petanya?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ndak juga! Cuma, Golkar kan partai nomor satu. Partai nomor satu  		itu ingin juga mempunyai peranan lebih besar dalam pemerintahan. Tapi,  		dilemanya itu sebenarnya kan, kebetulan saya Ketua Golkar setelah jadi  		Wapres. Jadi ya, sebaiknya dipahami seperti itu (dilema).<br /> 		Jadi ya, dilemanya tentu pada kepentingan dan upaya agar Golkar tetap  		besar. Nanti setelah itulah kita berbicara bagaimana selanjutnya. Yang  		penting lemajuan partai dulu, pemilihan legislatif dulu. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Dalam hal kepemimpinan, kalau dilihat dari luar, kami pernah  		menggambarkan (kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden) seperti antara  		sais dan joki mengendarai sado yang sama. Dan kelihatannya, kepemimpinan  		Presiden SBY, kebetulan dibilang orang cenderung peragu. Bagaimana dalam  		pengalaman bekerjasama dengan beliau sebenarnya, ada hambatan keraguan  		itu?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ndak juga. Sebenarnya beliau mengutamakan kebersamaan.  		Kebersamaan. Tentu, dalam kebersamaan itu kan harus melaksanakan secara  		baik sosialisasi dan demokrasi yang baik, sampai tingkat yang terendah.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Dan, tidak pernah merasa beliau terlalu lambat?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ndak! Kan, karena hal-hal yang ditel biasanya beliau minta saya  		laksanakan. Beliau seorang pemipin yang baik, mengetahui semua  		permasalahan.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Jadi, Bapak yakin sebagai dwitunggal yang bisa bertahan sampai  		2009?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Bisa, oh pasti, insya Allah bisa jalan. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Tidak pernah faktor gaya kepemimpinan menjadi penyebab keretakan  		hubungan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ndak, ndak, ndak! Kita jalan secara bersama, saling mengisi.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Ada beberapa hal yang kami catat, di antaranya waktu timnya  		Marsillam, UKP3R dibentuk Presiden, lalu begitu kuat Golkar menolak dan  		menantangnya. Sebenarnya, apa itu didorong Wapres sendiri, atau  		bagaimana?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ah, itu supaya jangan timbul dualisme saja. Karena, kalau  		organisasi timbul dualisme, terlalu banyak lembaga, justru menyebabkan  		orang bingung. Itu saja intinya, sebenarnya.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Tapi ada kesan, bahwa pengambilan keputusan itu tidak ada  		konsultasinya dengan Bapak?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Itu kan timnya Presiden. Jadi saya, kalau timnya Presiden, sama  		dengan kalau ada tim saya, tentu saya berhak mengangkatnya. Itu timnya  		Presiden. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Kembali lagi ke masalah kinerja Kabinet Indonesia Bersatu.  		Indonesia dalam tiga setengah tahun pemerintahan Kabinet Indonesia  		Bersatu, banyak mengalami bencana alam terutama tsunami di Aceh.  		Kelihatannya pemerintah terkuras kekuatannya ke arah situ?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya. Hampir enam bulan itu kita kerjakan. Memang untuk  		menanggulanginya kita mengerahkan kemampuan besar sekali. Namun yang  		bekerja di situ kan dalam bidang masing-masing, jadi tetap saja ekonomi  		kita jalan. Memang diperlukan dana yang besar, kemudian ekonomi berjalan,  		PU dan kesehatan berjalan. Tapi dalam enam bulan itu memang berat sekali  		penanganannya. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Kenapa tidak cepat diselesaikan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Namanya bencana alam itu susah sekali, bencana dari alam.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Bukan karena faktor kordinasi dan tanggungjawab penanganan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ndak, itu kan faktor alam. Kalau dari segi organisasinya segera  		malah. Siapa yang mau berlama-lama, tapi namanya juga alam.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Untuk ke depan, suhu politik sudah mulai naik. Tetapi  		program-program pemerintah harus jalan terus. Program apa yang paling  		menonjol yang akan dilaksanakan satu setengah tahun ke depan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Iya, banyak, seperti infrastruktur yang harus ditingkatkan,  		listrik, pelabuhan, airport dan lain-lain itu kita utamakan  		pembangunannya di daerah-daerah. Itu yang sekarang benar-benar kita push  		dengan baik.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Salah satu kekuatan ekonomi Indonesia ada di BUMN. Dari sistem  		pengelolaannya, apa hal yang membuat BUMN belum bisa menjadi motor  		penggerak ekonomi kita?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> BUMN terlalu banyak. Terlalu banyak! Jadi kita harus kurangi,  		terutama BUMN yang kecil-kecil, harus kita kurangi.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Untuk menguranginya sudah ada sistem yang baku?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya, kita usahakan kurangi sampai setengahnya dalam waktu tiga  		tahun dengan merger dan lain-lain. Kalau terlalu banyak begini susah  		sekali, dan juga banyak mencari orang-orang yang memimpin dengan baik.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Bagaimana kinerja Menteri BUMN Sofyan A Djalil?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Oh, baik. Hampir semua menerimanya dengan baik. Baik. Dia  		mengerti.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Kemudian, dulu, kalau kami tidak salah, ketika Bapak masih Menko  		Kesra, pernah mengumpulkan para direksi perbankan, supaya mengucurkan  		kredit, atau mendukung ekonomi riil. Sekarang, setelah menjadi Wapres,  		ada nggak upaya untuk mendorongnya lagi?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Lebih lagi, lebih lagi.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Apa yang Bapak koordinasikan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Agar bank-bank itu menjalankan fungsinya maisng-masing. Semakin  		keras kita dorong.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Ada instruksi khusus?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Oh ya, iya. Kita semua minta dibiayai kan, bank-bank itu  		membiayai seperti program mengenai gula, infrastruktur, jalan tol, UKM.  		Jalan, jalan, semua jalan!</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Pertumbuhan ekonomi kita sudah 6,2 persen. Ekonomi makro kita sudah  		jalan, tetapi mengapa ekonomi mikronya belum begitu jalan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Sebenarnya setiap pertumbuhan makro yang baik pasti diikuti  		dengan mikro yang baik. Cuma, selalu saja dianggap begitu. Contohnya  		saja, listrik kekurangan, karena kebutuhan listrik banyak sekali.  		Industri juga jalan. Perhatikan juga jalan-jalan raya yang macet,  		rupanya itu banyak penjualan mobil, banyak penjualan sepeda motor. Lihat  		juga kontainer di jalan-jalan, penuh kontainer, itu berarti ekonomi  		jalan.<br /> 		Jadi sering orang otomatis saja mengatakan sektor mikro tidak jalan.  		Tidak mungkin makro jalan tanpa mikro. Mesti selalu berbarengan.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Dalam memacu pertumbuhan ekonomi pasti tidak lepas dari pembangunan  		infrastruktur, termasuk transportasi laut, udara, jalan raya dan kereta  		api. Bagaimana proses pembangunan infrastruktur ini ke depan, supaya  		pertumbuhan ekonomi nasional lebih terpacu lebih cepat lagi?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Iya. Ini sebenarnya kita mau pacu, tapi ada saja  		halangan-halangannya. Dulu masalah dana, kita selesaikan dana. Sekarang,  		setelah kita selesaikan dana, masalah lahanlah yang harus berubah  		fungsinya. Ini kendala pembebasan lahan, ini kita selesaikan.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Masih masalah infrastruktur transportasi, sarana dan prasarananya.  		Pada Februari 2007, sewaktu Bapak Wapres melakukan perjalanan di atas  		kereta api Jakarta-Madiun sambil melaksanakan rapat koordinasi teknis  		perkeretaapian, sejauh mana hasil-hasil evaluasi koordinasi tersebut?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Saya minta mereka bikin perencanaan yang baik. Sebenarnya rapat  		kemarin untuk memeriksa perencanaan itu, dan kita akan bangun  		perkeretaapian kita dengan kemampuan sendiri. Tahun depan kita punya  		dana Rp 4 triliun untuk itu. Kali ini lebih baik. Kita ingin proyek  		pinjaman, lebih baik meminjam dalam negeri, bank-bank nasional kita  		minta.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Perihal masalah pemberantasan korupsi. Pada waktu itu Pak Wapres  		menyinkronkan pertemuan antara Kapolri, BPKP dan Jaksa Agung. Apa maksud  		dan sejauhmana aplikasinya?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya, supaya semua pejabat yang di bawah jangan serba takut. Jadi,  		kita minta itu mereka sinkron. Diperiksa dulu dia punya persoalannya,  		diperiksa dulu oleh akuntan yang profesional sebelum mereka dianggap  		korupsi macam-macam. Supaya jangan ketakutan luar biasa sehingga tidak  		mau mengambil keputusan secara cepat. Karena takut dianggap korupsi. </p>
	<p> 		Memang korupsi harus kita berantas, sebab korupsi itu sangat jelek  		akibatnya, menimbulkan kemiskinan. Tapi jika para pejabat itu tidak  		berbuat sesuatu, sama akibatnya, menimbulkan kemiskinan.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Masalah pendidikan. Sepertinya, kali ini kita punya pemimpin (Wapres)  		yang sangat peduli pada pendidikan. Untuk mengakselerasi kemajuan  		pendidikan, salah satunya memaksa ditempuh dengan pelaksanaan ujian  		nasional, yang tingkat kelulusan atau passing grade-nya pun turut  		dinaikkan terus. Apa dasar pemikiran Wapres dalam hal ini?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya, pertama, karena mutu pendidikan kita rendah. Kalau tidak  		dinaikkan secara cepat dan dipaksa, mutu pendidikan kita tidak akan  		naik-naik. Dengan dilaksanakan ujian nasional itu, para pelajar itu  		harus belajar, kan? Belajar dengan baik, baca buku. Karena sesuai cara  		orang belajar harus diuji. Lalu (dulu) ada yang lulus dan ada tidak  		lulus. Kalau semua lulus kan tidak ada yang mau belajar dengan baik. </p>
	<p> 		Hasilnya, ya, sekarang anak-anak semua belajar, kan. Sudah mulai takut,  		Anda punya anak atau kemenakan lihat saja masih berani nggak dia  		ngeluyur-ngeluyur, anak-anak SMA sekarang. Ndak terlalu berani lagi, kan?  		Karena dia mulai serius belajar.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Kalau alasannya seperti itu, kenapa masih saja muncul  		penentangan-penentangan soal kebijakan ujian nasional ini?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Karena banyak ahli-ahli pendidikan yang menerapkan teori terlalu  		bebas, ingin seperti itu. Padahal, hasilnya, buktinya saja bahwa  		pendidikan kita rendah. Tak usah banyak argumentasi, cari saja buktinya:  		Mutu pendidikan kita rendah, tidak bisa bersaing. Jadi harus  		ditingkatkan, dengan cara belajar. Tak usah cari teori macam-macam. Iya,  		kan.</p>
	<p> 		Mau selalu anggaran, anggaran tidak ada. Kalau anggaran, sepuluh tahun  		lagi baru cukup. Apa sepuluh tahun kita harus menunggu. Belum tentu juga.  		Walaupun sekolah hebat tapi tidak mau belajar, tidak dipaksa belajar,  		macam mana orang pintar. Jadi, biar demo, orang demo seribu kali, tetap  		saja saya jalanin. Ndak peduli.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Mengenai realisasi anggaran yang diatur sesuai konstitusi harus 20  		persen dari APBN dan APBD yang ternyata masih sulit terpenuhi, hingga  		mendorong Wapres meminta agar anggaran pendidikan kedinasan dan gaji  		guru dimasukkan ke dalam komponen 20 persen tadi?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Oh iya, kita minta itu dimasukkan. Kalau gaji guru dimasukkan  		itu bisa menaikkan anggaran pendidikan menjadi 15 persen. Dan itu benar.  		Guru kan bagian dari pendidikan. Undang-Undang Dasar mengatakan  		meningkatkan kecerdasan bangsa. Ya faktor itu pasti guru, dong.  		Faktornya juga termasuk pendidikan kedinasan akademi-akademi seperti  		akademi perhubungan, akademi imigrasi, institut pemerintahan dalam  		negeri, itu kan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah juga, masak tidak  		boleh masuk dalam pendidikan. Salah itu. Bertentangan dengan  		undang-undang dasar.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Dulu Pak Jusuf Kalla, sebelum menjadi Wapres, dalam Tokoh  		Indonesia, pernah mengatakan, bahwa antara Bapak sebagai Calon Wapres  		dan Susilo Bambang Yudhoyono Calon Presiden ada share dalam kepemimpinan  		kalau kelak terpilih. Masihkan komitmen share ini berlaku sekarang ini?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Yah&#8230;, Anda lihatnya bagaimana? Anda kan tadi tanya mana  		keputusan-keputusan yang saya ambil, kan share itu kan?</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Salah satu problem Indonesia sebagai negara agraria dengan tanahnya  		yang subur adalah soal pangan yang kurang. Adakah langkah strategis yang  		diambil pemerintah dalam rangka revitalisasi pertanian?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Iya, sekarang kita berupaya meningkatkan produksi. Supaya  		swasembada pangan, kita meningkatkan produksi beras, kita tingkatkan  		dengan bibit yang baik dengan biaya yang besar. Kita akan tingkatkan  		gula dengan investasi yang cukup besar. Semuanya akan kita tingkatkan,  		karet, sawit dan lain-lain.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Tidak ada upaya untuk melibatkan pengusaha besar?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Oh iya, semua kan terlibat. Salim, Syamsul Nursalim terlibat,  		pabrik gula kan harus besar, tidak mungkin petani sendirian karena butuh  		pabrik butuh apa. Semua terlibat.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Terutama, untuk pangan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya, untuk pangan. Kita minta, contohnya, pembibitan-pembibitan  		yang besar, padi hibrida. Itu kan tidak mungkin petani biasa, harus  		petani-petani yang punya teknologi.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Ada daerah yang khusus dikembangkan dalam rangka swasembada pangan?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Kalau untuk swasembada pangan paling tidak 10 provinsi. Kemarin  		itu kan kita luncurkan bibit padi hibrida senilai Rp 1 triliun.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Masalah hubungan daerah dengan pusat. Mungkin buah dari reformasi,  		dan penentangan dari publik, supaya desentralisasi itu diterapkan  		sedemikian rupa. Ada keluhan dari daerah belakangan ini, seolah-olah  		otonomi itu belum maksimal?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Tidak juga. Kan, kita tidak mungkin langsung 100 persen, tapi  		sesuai tahapannya. Kita kan bukan negara federal. Malah daerah sangat  		otonom, sangat.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Karena sangat otonom, jadi kesulitan bagi pemerintah pusat untuk  		mengatur daerah? </p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Iya, garis komandonya kadang-kadang sudah. Jangankan itu, antara  		gubernur dengan bupati kadang-kadang jadi masalah, kan, tidak bisa  		kontrol mereka, karena otonominya di kabupaten. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Apakah pemerintah pusat kesulitan ngontrol daerah?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ndak, kebijakannya. Kita tidak lagi kontrol kayak dulu. Tapi  		kita mengontrol kebijakannya. Mereka jalan.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Indonesia kan masih negara pedesaan. Komitmen pemerintah, menurut  		hemat kita, untuk melihat pedesaan ini masih kurang. Padahal bangsa ini  		ada di sana?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Sebenarnya, sejak dulu program itu, jaman Pak Harto program itu  		lebih kencang ya. Bahwa membangun dari daerah kecil, terbelakang, karena  		itu sekarang banyak program-program infrastruktur pedesaan. Meningkatkan  		pertanian, meningkatkan UKM, semua yang dibangun itu pedesaan-pedesaan.  		Tapi sebenarnya makna otonomi di situ juga bahwa itu bukan hanya pusat  		yang bertanggungjawab, daerah itu membangun daerah. Itu sebenarnya  		otonomi di situ. Karena itu anggaran sekarang tidak lagi per proyek dari  		pusat. Tapi ini uang, ke daerah, you bangunlah daerah, pedesaan. Itu  		sudah urusan di daerah.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Mengenai kesehatan masyarakat?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya, sama, sama. Dana anggaran kesehatan termasuk besar, Rp 16  		triliun.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Masalah politik. Tahun 2009 sudah dekat. Sebagai ketua umum partai,  		tentu, wajar partainya mencalonkan ketua umumnya menjadi calon presiden.  		Padahal, duet ini kan dwitunggal yang begitu bisa saling mengisi,  		walaupun kelihatan dari luar dikira ada intriknya. Dalam hal ini  		bagaimana policy Bapak sebagai Ketua Umum Partai Golkar?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ya, Golkar kan nanti menentukan dan menetapkannya secara  		demokratis dalam bentuk Rapimnas. Itu nanti akhir tahun ini, ditetapkan.</p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Tidak terlalu lama?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Tidak. Cukup waktu, enam bulan cukup. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Memang, Pak Jusuf Kalla tidak ada niat menjadi Presiden?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong>Emm, pokoknya, segala itu kan bukan saja urusan pribadi, tapi  		urusan partai. Partai yang memutuskan pada waktunya. </p>
	<p> 		<strong>MTI:</strong> Bukan hanya sekedar menjaga perasaan Presiden SBY?</p>
	<p> 		<strong>WAPRES:</strong> Ndak, ndak, ndak. Itu urusan partai. n mti ►<strong>mti-Majalah  		Tokoh Indonesia Edisi 39 Thn V, Agustus-September 2008</strong></p>
	<p>       *** <strong>TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)</strong></p>
	<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/kita-sby-jk-saling-mengisi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Peluang Duet Unik SBY-JK</title>
		<link>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/peluang-duet-unik-sby-jk/</link>
		<comments>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/peluang-duet-unik-sby-jk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 03:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/peluang-duet-unik-sby-jk/</guid>
		<description><![CDATA[	Peluang Duet Unik SBY-JK
	 		Oleh Ch Robin Simanullang: Duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  		(SBY) dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terlihat unik. Berbeda  		dengan duet Presiden &ndash; Wapres sebelumnya. Konstitusi mengamanatkan bahwa  		Wapres adalah pembantu Presiden. Tapi duet SBY-JK terlihat unik dengan  		kesan adanya pembagian kekuasaan. Masihkah duet unik ini bersatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h1>Peluang Duet Unik SBY-JK</h1>
	<p> 		<strong>Oleh Ch Robin Simanullang:</strong> Duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  		(SBY) dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terlihat unik. Berbeda  		dengan duet Presiden &ndash; Wapres sebelumnya. Konstitusi mengamanatkan bahwa  		Wapres adalah pembantu Presiden. Tapi duet SBY-JK terlihat unik dengan  		kesan adanya pembagian kekuasaan. Masihkah duet unik ini bersatu dan  		berpeluang menang pada Pilpres 2009?</p>
	<p> 		Duet unik SBY-JK cukup kontroversial. Dari penglihatan luar, duet ini  		sering berbeda dalam mengambil keputusan. Kadangkala terkesan Wapres JK  		mendahului kewenangan Presiden SBY. Terkadang SBY terkesan takut sama JK.  		Namun dalam kesempatan lain, SBY terkesan mengesampingkan JK. Sering  		juga keduanya terkesan berlomba merebut popularitas. Lalu, dalam  		kesempatan berikutnya, keduanya tampak seiring. Duet yang unik!</p>
	<p> 		Banyak pengamat memperkirakan duet SBY-JK, Presiden-Wapres pertama  		pilihan rakyat secara langsung (2004), ini akan pecah sebelum berakhir  		masa jabatan 20 Oktober 2009. Duet ini tidak lagi akan berpasangan dalam  		Pilpres 2009 nanti. Bahkan bukan hanya pengamat, kalangan internal  		Partai Golkar (JK) dan Partai Demokrat (SBY) sendiri juga meragukan  		kelanggengan duet SBY-JK. Tapi Wapres JK kepada Tokoh Indonesia  		menegaskan tidak ada masalah di antara mereka. &ldquo;Kita (SBY-JK) saling  		mengisi,&rdquo; katanya. </p>
	<p> 		Namun belakangan, Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso  		mengatakan masa depan duet SBY-JK dalam posisi yang tidak menentu.  		&ldquo;Mudah-mudahan saja ada keajaiban sehingga tetap duet ini bekerja dengan  		tenteram,&rdquo; ujar Priyo tatkala mengungkap kekecewaan partainya yang sudah  		terakumulasi terhadap pemerintah. </p>
	<p> 		Terakhir kekecewaan itu dipicu keputusan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto  		tentang Pilkada Maluku Utara. Mendagri memilih mengangkat pasangan  		Thayin Harmaini daripada pasangan Abdul Gafur yang diusung Partai Golkar  		walaupun kemenangan Abdul Gafur pernah diakui oleh Komisi Pemilihan Umum  		(KPU) Pusat. Menurut Priyo, Pilkada Malut itu adalah letupan atau puncak  		dari pada kegetiran yang selama ini kami (Partai Golkar yang dipimpin JK  		sebagai Ketua Umum) rasakan sebagai fraksi pendukung utama pemerintah. </p>
	<p> 		Tapi politisi Partai Demokrat (partai yang dipimpin SBY sebagai Ketua  		Dewan Pembina yang kekuasaannya hampir setara dengan Ketua Dewan Pembina  		Golkar era Orde Baru) menanggapi dingin gertakan Partai Golkar itu. Para  		pengamat juga sangat meragukan keberanian Partai Golkar meninggalkan  		pemerintah yang dipimpin duet SBY-JK. </p>
	<p> 		Setidaknya hal ini juga tercermin dari pernyataan Ketua Fraksi Partai  		Golkar sendiri di DPR: &ldquo;Biarlah pada saatnya partai akan bersikap. Tapi  		izinkanlah, Fraksi Golkar yang saya pimpin untuk menyampaikan ini. Saya  		mendapatkan dukungan yang demikian menggembirakan dari seluruh pimpinan  		partai (Golkar), termasuk dari daerah. Dan saya tidak ingin membebani  		Pak Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden,&rdquo; ujarnya.</p>
	<p> 		Juga tercermin dari pernyataan Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar  		Surya Paloh kepada pers, seusai mendampingi Ketua Umum DPP Partai Golkar  		Jusuf Kalla membuka rapat kordinasi teknis (Rakornis) bendahara Partai  		Golkar di ruang Bhinakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (3/6/2008)  		pagi.</p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>&ldquo;Tentu, kita sedih, berempati, dan kecewa. Itu satu fakta yang terasa  		dalam semangat dan emosi para konstituen partai Golkar. Namun, tidak  		berarti bahwasanya ini suatu hal yang barangkali&mdash;katakanlah&mdash;kita  		langsung ambil sikap tidak mengenal lagi hubungan silaturahmi dengan  		Presiden SBY,&rdquo; ujar Surya Paloh yang disampingnya berdiri Wapres JK.</p>
	<p> 		Benas saja, dalam kesempatan tidak terlalu lama, terhitung hari, Juni  		2008, Fraksi PG bergandeng tangan dengan Fraksi PD menolak angket BBM  		dan sama-sama memilih interpelasi.<br /> 		Tampaknya pernyataan kekecewaan PG hanya sebuah dinamika dalam  		perjalanan duet SBY-JK. JK sebagai Ketua Umum Partai Golkar, partai  		terbesar yang memenangkan Pemilu 2004, berada dalam posisi dilematis  		dalam dinamika koalisi PG dengan pemerintah (PD). Sebenarnya bagaimana  		peta koalisinya?</p>
	<p> 		Menjawab pertanyaan ini, Wapres Jusuf Kalla dalam wawancara dengan Tokoh  		Indonesia menjelaskan: &ldquo;Golkar kan partai nomor satu. Partai nomor satu  		itu ingin juga mempunyai peranan lebih besar dalam pemerintahan. Tapi,  		dilemanya itu sebenarnya kan, kebetulan saya jadi Ketua Umum Golkar  		setelah jadi Wapres. Jadi ya, sebaiknya dipahami seperti itu dilemanya.  		(Selengkapnya baca: 		<a href="http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/j/jusuf-kalla/mti/39.30.shtml">Wawancara  		Wapres JK: Kita (SBY-JK) Saling Mengisi</a>).</p>
	<p> 		Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Saiful Mujani, Kamis (1/11)  		di Jakarta mengatakan duet SBY-JK harus mampu memastikan kepada  		masyarakat bahwa mereka cukup solid untuk menyelesaikan pemerintahan,  		setidaknya sampai 2009. Bahkan, menurutnya, mereka juga perlu memastikan  		akan bersama-sama maju pada Pemilihan Umum 2009.</p>
	<p> 		Hal itu dikemukakan Saiful menanggapi adanya kesan duet SBY-JK sudah  		tidak solid. Ada kesan SBY sudah tidak mau dengan JK, demikian  		sebaliknya. Menurutnya, hal itu membuktikan pemerintah telah gagal untuk  		menciptakan kesan baik.<br /> 		Sampai saat ini SBY belum pernah mengatakan akan tetap perpasangan  		dengan JK pada Pilpres 2009. Demikian pula sebaliknya JK, bahkan pernah  		mengatakan dapat berpisah dengan SBY pada 2009, walaupun JK juga pernah  		mengatakan dirinya tidak mungkin menjadi presiden. </p>
	<p> 		Dalam menjawab pertanyaan reporter Tokoh Indonesia, apakah tidak ada  		niat menjadi Presiden, Wapres JK mengatakan segala hal itu bukan saja  		urusan pribadi, tapi urusan partai. Partai yang memutuskan pada waktunya.  		Pernyataan JK ini diakuinya bukan hanya sekedar menjaga perasaan  		Presiden SBY, tapi karena memang hal itu adalah urusan partai.</p>
	<p> 		Menanggapi kepemimpinan duet SBY-JK, yang kalau dilihat dari luar,  		seperti antara sais dan joki dalam satu kreta kuda (sado), hal mana  		Presiden SBY dibilang orang cenderung peragu, Wapres JK mengaku tidak  		mengalami ada masalah di antara mereka. Walaupun JK juga melihat seolah  		ada kesan jika dirinya sudah tidak solid dengan SBY. Tapi, menurutnya,  		kesan itu kadang kala disebabkan oleh media. JK meyakinkan: &ldquo;Kami punya  		tujuan dan amanah yang sama sampai tahun 2009. Kecuali kalau mau memberi  		amanah tambahan, ya terima kasih.&rdquo; Mengenai posisi selanjutnya, menurut  		JK akan ditentukan oleh partai politik dan bangsa. &ldquo;Kalau saya sendiri,  		inginnya terus mengabdi pada negara,&rdquo; katanya.</p>
	<p> 		Perihal gaya kepemimpinan SBY, JK mengatakan: &ldquo;Sebenarnya beliau (SBY)  		mengutamakan kebersamaan. Tentu, dalam kebersamaan itu kan harus  		melaksanakan secara baik sosialisasi dan demokrasi yang baik, sampai  		tingkat yang terendah.</p>
	<p> 		Karena, menurutnya, hal-hal yang ditel biasanya SBY minta dia laksanakan.  		&ldquo;Beliau seorang pemipin yang baik, mengetahui semua permasalahan,&rdquo; tegas  		Wapres JK tentang kepemimpinan SBY. Maka JK yakin dwitunggal ini bisa  		bertahan sampai 2009. Menurut JK, tidak pernah faktor gaya kepemimpinan  		menjadi penyebab keretakan hubungan mereka. &ldquo;Kita jalan secara bersama,  		saling mengisi,&rdquo; katanya.</p>
	<p> 		Walaupun ada beberapa hal yang dicatat Tokoh Indonesia, di antaranya,  		waktu timnya Marsillam, UKP3R dibentuk Presiden, lalu begitu kuat Golkar  		menolak dan menantangnya. Menurut Wapres JK, itu supaya jangan timbul  		dualisme saja. &ldquo;Karena, kalau organisasi timbul dualisme, terlalu banyak  		lembaga, justru menyebabkan orang bingung. Itu saja intinya, sebenarnya,&rdquo;  		katanya.</p>
	<p> 		Sementara itu, intelektual muda yang juga Rektor Universitas Paramadina,  		Anis Baswedan, menilai duet SBY-JK sepintas tampak seiring dan sejalan.  		Namun, dia melihat ada dua aspek yang menjadi masalah, yaitu gaya dan  		sistem. Menurutnya, SBY dan JK memiliki gaya berpolitik dan kepemimpinan  		yang berbeda. SBY cenderung berorientasi pada prosedur, sementara JK  		cenderung berorientasi pada hasil. &ldquo;Efeknya, mereka sering memiliki  		pendekatan berbeda dalam menghadapi problem yang sama,&rdquo; katanya. </p>
	<p> 		Sesuai konstitusi, Presiden memiliki otoritas politik lebih besar  		daripada Wapres. Namun, dalam realitas politik, Wapres JK memiliki  		sistem dukungan politik yang jauh lebih kuat (Partai Golkar)  		dibandingkan Presiden SBY (Partai Demokrat). &ldquo;Karena itu, Presiden  		sering terkesan memperhitungkan langkah-langkah Wapres, seakan-akan  		Wapres bukan sekadar wakilnya, tetapi sebuah entitas politik tersendiri  		yang bisa independen dari Presiden,&rdquo; ujar Anis. Perbedaan inilah yang  		membuat kerja sama Presiden SBY dan Wapres JK menjadi tidak optimal.</p>
	<p> 		Namun, Wakil Ketua MPR HM Aksa Mahmud menilai Duet SBY-JK sebagai  		Presiden dan Wakil Presiden pilihan rakyat secara langsung, merupakan  		duet yang paling ideal sepanjang sejarah republik ini. Mereka berdua  		telah bekerja luar biasa. Tidak mengenal hari Sabtu-Minggu, siang dan  		malam. Menurutnya, pemerintahan ini masih jauh lebih baik dibanding  		dengan yang sebelum-sebelumnya.</p>
	<p> 		Aksa Mahmud menilai duet ini sangat baik, karena kemampuannya yang  		saling melengkapi, dwi tunggal Indonesia. Satu berfungsi sebagai  		pengarah atau steering, satu sebagai pekerja atau organizing. Seorang  		pekerja membutuhkan visi sebagai panduan yang menjadi tugas pengarah.  		Sementara sebuah visi perlu diterjemahkan menjadi kerja yang konkrit di  		lapangan. Sehingga membutuhkan pekerja keras yang ulet dan serius. </p>
	<p> 		&ldquo;Jadi pasangan ini sangat ideal, ada pengarah dan ada pekerjanya. Tentu  		harapan kita hasilnya menyejahterakan dan memakmurkan rakyat,&rdquo; ujar Aksa  		Mahmud. Menurutnya, pasangan ini telah bekerja maksimal. Walaupun  		masyarakat belum puas. Belum puas karena terlalu lambatnya pergerakan  		ekonomi. &ldquo;Sebagai orang yang mempunyai background pegusaha, seharusnya  		bisa diselesaikan beberapa hari tapi kenapa dua-tiga tahun belum selesai.  		Itu ketidakpuasan saya,&rdquo; ujar pendiri kelompok usaha Bosowa itu. Namun,  		anggota Badan Pertimbangan KADIN Indonesia, itu menambahkan, tentu tidak  		bisa seperti membalik tangan, memerlukan proses.</p>
	<p> 		Wakil Ketua Partai Demokrat Ahmad Mubarok juga pernah mengatakan  		idealnya duet SBY-JK dua periode. Menurutnya, kepemimpinan nasional baru  		akan terasa efeknya jika mendapat kesempatan memimpin pemerintahan  		selama dua periode. Dia membandingkan dengan masa kepemimpinan Presiden  		Soekarno selama 20 tahun (1945-1965) dan Presiden Soeharto hampir 32  		tahun (1966-1998). Sementara setelah reformasi, semuanya  		sebentar-sebentar. Presiden Habibie hanya 1 tahun sampai pemilu  		(1998-1999), Abdurrahman Wahid jatuh di tengah jalan (1999-2002), dan  		diteruskan Megawati lebih kurang tiga tahun (2002-2004).</p>
	<p> 		Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR RI Dr Syarief Hasan juga menilai  		pemerintah pimpinan duet Presiden SBY dan Wapres JK, sebagai hasil  		pilihan rakyat pada Pemilu 2004, telah menjalankan tugas sebagaimana  		mestinya walaupun masih ada kekurangan dari hasil pelaksanaan tugas itu.  		Berbagai persoalan sudah ditangani dan telah berhasil memperbaiki  		keadaan. &ldquo;Memang ada yang menyatakan kurang puas. Itu kita akui, namun  		kita juga harapkan agar jangan menilai kinerja hanya berdasarkan  		persepsi,&rdquo; katanya.</p>
	<p> 		Dia mengajak semua pihak untuk menjalankan etika berpolitik yang santun,  		baik dan benar sebagai pedoman utama bagi partai politik dalam  		menjalankan pembelajaran demokrasi. &ldquo;Jangan hanya mengkritik, memfitnah  		bahkan melakukan pembunuhan karakter dan citra,&rdquo; kata Syarief Hasan.</p>
	<p> 		Syarief Hasan mengemukakan bahwa Partai Demokrat (PD) menawarkan gagasan  		agar Partai Golkar (PG) meneruskan koalisinya dengan mempertahankan  		pasangan SBY-JK hingga Pemilu 2014. Walaupun dia menegaskan, meski  		menawarkan gagasan agar pasangan SBY-JK dipertahkankan pada Pemilu 2009,  		PD siap ditinggalkan PG jika pada Pemilu 2009 PG akan mencalonkan  		kadernya menjadi presiden. </p>
	<p> 		Hal senada dikemukakan Sekretaris FPD Sutan Bhatoegana jika PG ingin  		mengajukan Capres, pihaknya siap. Namun, Sutan menegaskan bahwa PD tidak  		akan terburu-buru mengumumkan pencalonan. &ldquo;Kita memberi kesempatan  		kepada SBY untuk mengukir keberhasilan. Dengan keberhasilan, maka hal  		itu merupakan kampanye menuju Pilpres 2009,&rdquo; katanya.</p>
	<p> 		Diyakini PD akan tetap mencalonkan SBY. Sebab dari sejarahnya, PD  		dibentuk sebagai kendaraan politik bagi SBY. Karena itu, PD mendorong  		agar SBY berhasil akan memuluskan jalan bagi pencalonannya kembali pada  		Pilpres 2009.</p>
	<p> 		Sementara, dengan siapa SBY berpasangan masih akan ditentukan  		perkembangan politik berikutnya. Namun, kecenderungan duet SBY-JK akan  		dipertahankan masih lebih memungkinkan. Duet unik ini tampaknya  		mempunyai kisah kerjasama dan komitmen yang mengikat untuk saling  		mengisi. Namun, hal ini masih harus menunggu Pemilu Legislatif dan  		keputusan partai (PG dan PD).</p>
	<p> 		Jika PD mengungguli PG dalam Pemilu Legislatif, akan terasa lebih wajar  		kader PG dalam posisi Wapres. Tapi jika perolehan suara PG jauh di atas  		PD, akan lebih memungkin PG mengajukan Capres sendiri. Dalam kondisi ini,  		posisi JK akan serba sulit. Namun kompromi politik antara JK (PG) dengan  		SBY (PD) akan membuka peluang duet SBY-JK akan diusung PG dan PD kembali.  		Apalagi, secara ideologis kedua partai ini memiliki persamaan. Artinya,  		secara ideologis koalisi kedua partainya amat ideal.</p>
	<p> 		Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso pernah mengemukakan bahwa  		PG telah memiliki empat opsi untuk menghadapi Pilpres 2009. Opsi pertama,  		justru meneruskan duet SBY-JK. Opsi kedua, jalan sendiri jika memperoleh  		suara signifikan. Opsi ketiga, berkoalisi dengan parpol Islam (PKS).  		Opsi keempat, berkoalisi dengan PDIP.</p>
	<p> 		Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S  		Bakry, di Jakarta, Ahad (15/6/2008) mengungkapkan hasil survei terbaru  		LSN yang dilaksanakan pada 2 hingga 14 Mei 2008 di 33 provinsi,  		menunjukkan duet SBY-JK (Opsi pertama PG yang disebut Priyo) tidak lagi  		masuk dalam sepuluh pasangan capres-cawapres yang diminati publik.  		Pasangan ini hanya bertengger di peringkat 11. Jauh merosot dari hasil  		survei LSN Januari 2008, di mana pasangan SBY-JK masih bertengger di  		peringkat lima dengan 43,8 persen publik akan memilih SBY-JK jika  		pasangan ini berduet lagi dalam Pilpres 2009.</p>
	<p> 		Sedangkan hasil survei Lembaga Riset Indonesia (LRI) yang dilakukan pada  		pertengahan Mei 2008 memprediksi keterpilihan pasangan SBY-JK (10,75  		persen) berada di bawah kombinasi SBY-Hidayat Nur Wahid (15,12 persen)  		atau Megawati-Sultan HB X (14,74 persen) dan berada di kombinasi  		Yudhoyono-Sultan HB X (6,14 persen).</p>
	<p> 		Namun hasil survei LSN dan LRI ini pastilah bukan menjadi bagian mutlak  		bahan pertimbangan bagi PG untuk menentukan pilihan. PG akan menjadikan  		pemilu legislatif sebagai patokan untuk Pilpres 2009. Kalau Golkar  		menang, kemungkinan memilih opsi kedua. Bisa mungkin JK (Capres)  		berpasangan dengan kader Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid (Cawapres).  		Priyo menyebutkan, kombinasi itu bisa di balik menjadi Hidayat-Kalla  		kalau perolehan suara PKS pada Pemilu 2009 mengungguli PG. Tapi  		kemungkinan terbaik bagi PG adalah menduetkan JK dengan Sri Sultan HBX.</p>
	<p> 		Tapi persaingan di PG untuk merebut tiket Capres atau Cawapres masih  		akan terjadi. Partai ini memiliki sejumlah kader yang memiliki kapasitas  		jadi Capres atau Cawapres. Tergantung bagaimana mekanisme internal  		pemilihan Capres atau Cawapres dari partai ini. Jika mekanisme konvensi  		diberlakukan akan terjadi kompetisi yang amat ketat. Beberapa nama yang  		berpeluang memenangkan konvensi PG adalah Akbar Tandjung, Jusuf Kalla,  		Sri Sultan HBX, Surya Paloh, Prabowo Subiakto, Aburizal Bakrie, Fadel  		Muhammad, dan Slamet Effendi Yusuf. Kemungkinan menang adalah Akbar  		Tandjung atau Jusuf Kalla.</p>
	<p> 		Jika mekanismenya yang ditempuh melalui Rapimnas, hampir dipastikan  		Jusuf Kalla akan memenangkannya dengan diberi mandat memilih menjadi  		Capres atau Cawapres. Walaupun kemungkinan lain masih saja terbuka. Jika  		kedua mekanisme (konvensi dan Rapimnas) ini tidak disepakati secara  		mutlak, kemungkinan lain akan terbuka, yakni selain PG punya calon  		sendiri (Capres atau Cawapres), kader PG lainnya juga akan dicalonkan  		partai lain, seperti JK pada Pilpres 2004.</p>
	<p> 		Satu hal yang patut dicatat dari perjalanan PG adalah partai ini  		berpengalaman sebagai partai berkuasa, tidak berpengalaman sebagai  		partai oposisi. Partai ini berpengalaman mela-kukan apa saja untuk  		merebut kekuasaan.</p>
	<p> 		Sementara itu, peluang SBY mempertahankan jabatan presiden tanpa  		berpasangan dengan JK, juga terbuka dengan berbagai kemungkinan (alternatif).  		SBY kemungkinan akan berpasangan dengan kader PKS (Hidayat Nur Wahid  		atau Tifatul Sembiring). Walaupun kemungkinan kader PKS akan berpasangan  		dengan Wiranto lebih terbuka jika Partai Hanura mendapat suara  		signifikan. Kemungkinan lain, SBY berpasangan dengan Sri Mulyani  		Indrawati, Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung, Sri Sultan HBX, Hatta Rajasa,  		Sutrisno Bachir, Din Syamsuddin, Fadel Muhammad, atau Suryadharma Ali.</p>
	<p> 		Pasangan SBY - Sri Mulyani Indrawati kemungkinan akan tampil sebagai  		kejutan, jika Partai Demokrat memperoleh suara signifikan pada Pemilu  		Legislatif. Kejutan ini kemungkinan akan menarik perhatian kalangan muda  		dan perempuan yang akan membuat pasangan ini meraih kemenangan. Mesin  		intelejen politik SBY akan lebih berperan daripada Partai Demokrat dalam  		mengatur strategi pemenangan Pemilu termasuk menciptakan kejutan siapa  		pasangan Cawapres bagi SBY dan menciptakan sesuatu kejadian yang  		mengundang empati kepada SBY dan pasangannya. ► <strong>Majalah Tokoh  		Indonesia Edisi 39</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jusufkalla.blogsome.com/2009/02/24/peluang-duet-unik-sby-jk/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Muhammad Jusuf Kalla</title>
		<link>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/18/muhammad-jusuf-kalla/</link>
		<comments>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/18/muhammad-jusuf-kalla/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 03:40:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/18/muhammad-jusuf-kalla/</guid>
		<description><![CDATA[	 	
	 	Nama :Muhammad Jusuf Kalla
	 Lahir :Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942
	 Agama :Islam
	 Pendidikan :- SD II Watampone (1953)  - SMP Islam di Makassar (1957)  - SMA Negeri III di Makassar (1960)  - Fakultas Ekonomi Universitas Hassanuddin (1967)  - The European Institute of Business Administration  - Fountainebleu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font> 	<br /><!--image --><img border="0" src="http://www.pdat.co.id/ads/img/jusufkalla.jpg" /><!--image --></p>
	<p> 	<!-- atribut --><strong>Nama</strong><!-- atribut --> :<br /></font><font><!-- -->Muhammad Jusuf Kalla<!-- --></font></p>
	<p> <!-- atribut --><strong>Lahir</strong><!-- atribut --> :<br /><font><!-- -->Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942<!-- --></font></p>
	<p> <!-- atribut --><strong>Agama</strong><!-- atribut --> :<br /><font><!-- -->Islam<!-- --></font></p>
	<p> <!-- atribut --><strong>Pendidikan</strong><!-- atribut --> :<br /><font><!-- -->- SD II Watampone (1953) <br /> - SMP Islam di Makassar (1957) <br /> - SMA Negeri III di Makassar (1960) <br /> - Fakultas Ekonomi Universitas Hassanuddin (1967) <br /> - The European Institute of Business Administration <br /> - Fountainebleu, Prancis (1977)<!-- --></font></p>
	<p> <!-- atribut --><strong>Karir</strong><!-- atribut --> :<br /><font><!-- -->- Direktur Utama NV Hadji Kalla Trading Company (1968) <br /> - Direktur Utama PT Bumi Karsa (1969) <br /> - Direktur Utama PT Bhakti Centra Baru (1975) <br /> - Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama (1979) <br /> - Direktur Utama PT Bukaka Agro (1980) <br /> - Direktur Utama PT Bukaka Meat (1980) <br /> - Anggota DPRD Sulawesi Selatan <br /> - Anggota DPR RI (1998-1999) <br /> - Anggota DPR RI (1999-2004) <br /> - Menteri Perdagangan dan Perindustrian (1999-2000) <br /> - Menko Bidang Kesra (2001-sekarang)<!-- --></font></p>
	<p> <!-- atribut --><strong>Kegiatan Lain</strong><!-- atribut --> :<br /><font><!-- -->- Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI Cabang Makassar (1964-1967) <br /> - Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Sulawesi Selatan (1997-1999 dan 1999-2004) <br /> - Koordinator KADIN se-kawasan Timur Indonesia<!-- --></font></p>
	<p>   <!-- atribut --><strong>Keluarga</strong><!-- atribut --> :<br /><font><!-- -->Ayah : Hadji Kalla  Ibu : Athirah  Istri : Mufidah  Anak : lima orang<!-- --></font></p>
	<p> <!-- atribut --><strong>Alamat Rumah</strong><!-- atribut --> :<br /><font><!-- -->Jalan Haji Bau No. 16, Makassar, Sulawesi Selatan   <!-- --></font></p>
	<p>&nbsp;    	      </p>
	<p><font><strong>Jusuf Kalla<!-- --></strong>   	<br /></font><font><strong><!-- --><!-- --></strong>   	</p>
	<p></font><font><!-- -->MUHAMMAD Jusuf Kalla adalah generasi kedua pemilik perusahaan keluarga cukup beken di kota Makassar, Hadji Kalla. Anak kedua pasangan pengusaha Hadji Kalla dan Athirah ini lahir dan besar dalam keluarga saudagar. Sejak kecil, Jusuf yang kini menjadi Menko Bidang Kesra telah akrab dengan dunia usaha.</p>
	<p> Lulus SD di tempat kelahirannya, Watampone, Jusuf lalu melanjutkan pendidikan tingkat lanjutan di Makassar. Mungkin lantaran kadung akrab dengan dunia bisnis, ia pun memilih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Semasa mahasiswa, ia terlibat dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan. Salah satunya, ia pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar, periode 1964-1967.</p>
	<p> Selepas kuliah, pada 1967, Jusuf total terjun ke dunia bisnis. Ia menakhodai NV Hadji Kalla Trading Company &#8212; perusahaan hasil bumi yang diwariskan ayahnya. Saat menerima tongkat kepemimpinan itu, ia sempat khawatir. Pasalnya, perusahaan yang berdiri sejak 1952 itu tengah dilanda krisis.</p>
	<p> Beruntung, tak lama setelah dipimpinnya, perusahaan tersebut memenangkan tender. NV Hadji Kalla &#8212; sebagai agen mobil Toyota di Sulsel &#8212; ditunjuk mengadakan kendaraan untuk kantor gubernur setempat. Dari sana, ia pun berkembang. Memasuki dekade 1990-an, perusahaan yang dinakhodainya itu menguasai lebih dari 50 persen pasaran mobil di wilayah Indonesia bagian Timur.</p>
	<p> Perusahaan yang dipimpinnya makin berkembang-biak, kini ayah lima anak ini mengomandani sejumlah perusahaan lain di bawah bendera Bukaka. Di antaranya, PT Bumi Karsa, PT Bukaka Teknik Utama, PT Bukaka Meat, PT Bukaka Argo, dan PT Bhakti Centra Baru.</p>
	<p> Meski sibuk sebagai pengusaha, keinginan belajarnya tak pernah surut. Pada 1977, Jusuf terbang ke Prancis. Di negeri penghasil anggur itu, ia memperdalam ilmu (bisnis) di The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Paris, selama sekitar satu setengah tahun.</p>
	<p> Ketika ditunjuk menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era Pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jusuf terpaksa melepaskan jabatannya di berbagai perusahaan. Dan namanya ramai dibicarakan saat dirinya dicopot dari kursi kabinet bersama Laksamana Sukardi &#8212; sekitar setahun setelah ia mendudukinya.</p>
	<p> Sekarang, di masa pemerintahan Megawati, Jusuf kembali terpilih sebagai menteri. Ia dipercaya menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pemberantasan Kemiskinan (Menko Kesra dan Taskin). Dan kabarnya, pria yang hobi olahraga jalan kaki ini juga akan melepaskan berbagai jabatannya di sejumlah perusahaan di bawah bendera Bukaka. </p>
	<p> Suksesnya selaku Menko Kesra dan Taskin yang patut dicatat adalah keberhasilannya mendamaikan pertikaian berbau SARA di Poso dan Maluku, lewat pertemuan Malino I dan II di Sulawesi Selatan (2002).<!-- --> </font></p>
	<p>&nbsp;</p>
<font></font><font><font /></font>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/18/muhammad-jusuf-kalla/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/14/hello-world/</link>
		<comments>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/14/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 04:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/14/hello-world/</guid>
		<description><![CDATA[	Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
	An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
	<p>An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions, ask them in the <a href="http://blogsome-forum.blogsome.com">forums</a> &#8212; we are only too willing to help.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jusufkalla.blogsome.com/2008/11/14/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
